
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia tepatnya di Kalimantan dan Sumatra masih terus berlangsung hingga bulan Oktober 2026. Menurut anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono menyatakan, secara ilmiah terdapat tiga faktor utama yang saling berkaitan yaitu iklim dan cuaca, aktivitas manusia, dan kerentanan ekosistem. Di Indonesia, karhutla sering terjadi di lahan gambut yang lahan ini memiliki karakteristik khusus karena terbentuk dari akumulasi material organik. Berbeda dengan kebakaran biasa, pada lahan gambut pembakaran dapat berlangsung di bawah permukaan melalui proses smouldering combustion atau pembakaran membara tanpa nyala api yang jelas.
Efek dari karhutla yang belum berakhir menghasilkan polutan dan kabut asap yang menurunkan kualitas udara. Asap karhutla mengandung partikel halus yaitu PM2.5 yang berbahaya bagi kesehatan karena dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga paru-paru. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin pun mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak karhutla untuk menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko paparan PM2.5 dari karhutla.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Particulate Matter (PM2.5) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2.5 µm (mikrometer). Diameter partikel ini lebih kecil daripada diameter rambut manusia.

Pengukuran konsentrasi PM2.5 menggunakan metode penyinaran sinar beta (Beta Attenuation Monitoring) dengan satuan mikrogram per meter kubik (µg/m³). PM2.5 dibentuk di atmosfer karena adanya reaksi bahan kimia seperti sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NO). Jika dilihat dengan mata telanjang, PM2.5 terlihat gelap dan kabur.
Batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan berada dalam udara ambien atau Nilai Ambang Batas (NAB) dari PM2.5 berdasarkan PP No. 22 Tahun 2021 adalah 55 µg/m³. BMKG membagi level polusi udara PM2.5 di Indonesia yaitu:
- Level baik : 0-15 µg/m³
- Level sedang : 16-65 µg/m³
- Tidak sehat : 66-150 µg/m³
- Sangat tidak sehat : 151-250 µg/m³
- Level berbahaya : >250 µg/m³



Dengan kondisi karhutla yang sedang terjadi di Indonesia, data dari BMKG menunjukkan bahwa beberapa daerah memiliki level PM2.5 yang berbahaya dengan Palangkaraya memiliki polutan tertinggi yaitu 1.304 µg/m³. Paparan dari PM2.5 dapat menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan, seperti:
- Asma
- Rhinitis
- Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
- Bronkitis
- ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)
- Penyakit kardiovaskular (seperti penyakit jantung iskemik dan stroke)
- Penyakit kulit
Tidak hanya berdampak pada manusia, PM2.5 juga menjadi bagian dari pencemaran udara yang dapat memengaruhi lingkungan. Partikel dan polutan yang berada di atmosfer dapat berkontribusi terhadap terbentuknya kabut asap serta memengaruhi kondisi ekosistem dan kualitas lingkungan.
Sumber:
- Mengapa Karhutla Terus Berulang dan Sulit Dipadamkan? Ini Penjelasan Pakar
- Konsentrasi Partikulat (PM2.5) – Kualitas Udara – BMKG
- Mengenal PM 2.5 dan PM 10, Partikel Berbahaya bagi Tubuh – Lifestyle Katadata.co.id
- Perlu Tahu, Ini 7 Gangguan Kesehatan yang Dipicu Partikel Polusi PM2.5
- Pengertian PM2.5, Sumber, Dampak, dan Cara Menguranginya
- Wildfire Smoke – A Complex Mixture | US EPA

Tinggalkan Balasan