
Dalam situasi darurat seperti kebakaran, gempa bumi, kebocoran gas, maupun kondisi lain yang mengharuskan penghuni meninggalkan gedung, proses evakuasi menjadi langkah pertama yang sangat menentukan keselamatan. Namun, keberhasilan evakuasi tidak hanya bergantung pada tersedianya jalur evakuasi atau sistem alarm, tetapi juga pada kesiapsiagaan dan perilaku setiap individu saat menghadapi keadaan darurat.
Sayangnya, masih banyak orang yang melakukan tindakan spontan yang justru dapat memperlambat proses evakuasi dan meningkatkan risiko cedera. Oleh karena itu, pemahaman mengenai prosedur evakuasi yang benar perlu dimiliki oleh seluruh penghuni gedung, baik di lingkungan perkantoran, industri, pusat perbelanjaan, rumah sakit, maupun fasilitas publik lainnya.
Berikut lima kesalahan yang masih sering terjadi saat proses evakuasi gedung beserta tindakan yang seharusnya dilakukan.
1. Tidak Mengenali Jalur Evakuasi
Kesalahan paling mendasar adalah tidak mengetahui lokasi jalur evakuasi sebelum keadaan darurat terjadi. Banyak orang baru mencari pintu keluar ketika alarm berbunyi atau situasi sudah mulai panik. Kondisi ini dapat menyebabkan kebingungan, penumpukan orang di satu titik, hingga memperlambat proses evakuasi.
Setiap gedung umumnya telah dilengkapi dengan denah evakuasi, rambu EXIT, tangga darurat, serta titik kumpul (assembly point). Sayangnya, fasilitas tersebut sering kali diabaikan karena dianggap tidak akan pernah digunakan.
Yang seharusnya dilakukan:
- Kenali jalur evakuasi sejak pertama kali memasuki gedung.
- Perhatikan lokasi pintu darurat, tangga darurat, dan titik kumpul.
- Ikuti kegiatan sosialisasi maupun simulasi evakuasi yang diselenggarakan oleh perusahaan atau pengelola gedung.
Semakin cepat seseorang mengenali jalur evakuasi, semakin cepat pula proses penyelamatan dapat dilakukan ketika kondisi darurat benar-benar terjadi.
2. Menggunakan Lift Saat Evakuasi
Saat terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya, lift bukanlah sarana evakuasi yang aman. Lift dapat berhenti beroperasi akibat pemadaman listrik, gangguan sistem, maupun secara otomatis kembali ke lantai tertentu sebagai bagian dari sistem proteksi kebakaran.
Apabila seseorang terjebak di dalam lift saat kondisi darurat berlangsung, risiko keselamatannya akan meningkat karena proses penyelamatan menjadi lebih sulit.
Yang seharusnya dilakukan:
- Gunakan tangga darurat sebagai jalur evakuasi utama.
- Ikuti rambu evakuasi yang telah disediakan.
- Tetap berjalan dengan tertib tanpa saling mendorong atau berlari.
Menggunakan tangga darurat merupakan prosedur standar yang diterapkan dalam berbagai pedoman keselamatan gedung di seluruh dunia.
3. Panik dan Kembali Mengambil Barang Pribadi
Dalam kondisi darurat, sebagian orang masih berusaha kembali ke ruang kerja atau meja mereka untuk mengambil laptop, tas, dokumen penting, maupun barang berharga lainnya. Meskipun terlihat sepele, tindakan ini dapat menghabiskan waktu yang sangat berharga dan meningkatkan risiko terpapar bahaya.
Selain membahayakan diri sendiri, tindakan tersebut juga dapat menghambat proses evakuasi orang lain, terutama apabila harus melawan arus penghuni yang sedang menuju pintu keluar.
Perlu dipahami bahwa keselamatan jiwa harus selalu menjadi prioritas utama dibandingkan harta benda. Barang yang hilang atau rusak masih dapat diganti, sedangkan nyawa manusia tidak dapat tergantikan.
Yang seharusnya dilakukan:
- Segera tinggalkan area kerja ketika instruksi evakuasi diberikan.
- Jangan kembali ke dalam gedung untuk mengambil barang pribadi.
- Fokus menuju jalur evakuasi dan bantu orang lain apabila kondisi memungkinkan tanpa membahayakan diri sendiri.
4. Tidak Mengikuti Instruksi Petugas Evakuasi
Dalam setiap kondisi darurat, perusahaan atau pengelola gedung umumnya telah membentuk Emergency Response Team (ERT) atau petugas evakuasi yang bertugas mengarahkan penghuni menuju lokasi yang aman.
Namun, masih terdapat orang yang memilih jalur sendiri, mengabaikan arahan petugas, atau bahkan kembali memasuki area yang telah dinyatakan berbahaya. Tindakan tersebut dapat mengganggu koordinasi evakuasi dan meningkatkan risiko terjadinya korban.
Petugas evakuasi memiliki informasi mengenai kondisi di lapangan, sehingga setiap instruksi yang diberikan didasarkan pada pertimbangan keselamatan.
Yang seharusnya dilakukan:
- Tetap tenang dan dengarkan setiap instruksi dari petugas.
- Ikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan.
- Jangan mengambil keputusan sendiri yang dapat membahayakan diri maupun orang lain.
Koordinasi yang baik antara penghuni gedung dan petugas merupakan faktor penting dalam keberhasilan proses evakuasi.
5. Tidak Menuju Assembly Point Setelah Keluar Gedung
Kesalahan lain yang masih sering terjadi adalah langsung meninggalkan lokasi setelah berhasil keluar dari gedung tanpa menuju assembly point.
Padahal, titik kumpul memiliki fungsi yang sangat penting dalam proses tanggap darurat. Di lokasi tersebut, petugas akan melakukan pendataan seluruh penghuni untuk memastikan tidak ada orang yang masih tertinggal di dalam gedung. Informasi ini menjadi dasar bagi tim penyelamat dalam menentukan apakah proses pencarian dan penyelamatan masih diperlukan.
Apabila seseorang langsung pulang atau berpindah ke lokasi lain tanpa melapor, petugas dapat menganggap orang tersebut masih berada di dalam gedung. Akibatnya, proses pencarian dapat dilakukan secara tidak perlu dan menghambat penanganan keadaan darurat.
Yang seharusnya dilakukan:
- Segera menuju assembly point setelah keluar dari gedung.
- Lakukan pelaporan kepada petugas apabila diperlukan.
- Tetap berada di titik kumpul hingga dinyatakan aman atau memperoleh instruksi lanjutan.
Evakuasi yang aman tidak hanya bergantung pada fasilitas yang tersedia, tetapi juga pada kesiapan setiap individu dalam memahami prosedur keselamatan. Mengenali jalur evakuasi, menggunakan tangga darurat, mengutamakan keselamatan dibandingkan barang pribadi, mematuhi instruksi petugas, dan berkumpul di assembly point merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar terhadap keselamatan seluruh penghuni gedung.
Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa program kesiapsiagaan darurat tidak berhenti pada penyediaan sarana dan prasarana saja, tetapi juga didukung oleh sosialisasi, pelatihan, serta simulasi evakuasi secara berkala. Dengan demikian, setiap individu akan lebih siap mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat yang sesungguhnya.
Ingat, evakuasi bukan sekadar keluar dari gedung, tetapi memastikan seluruh penghuni dapat mencapai tempat yang aman dengan cepat, tertib, dan selamat.
Sumber:
- Occupational Safety and Health Administration (OSHA). Emergency Preparedness and Response: Getting Started. https://www.osha.gov/emergency-preparedness/getting-started
- National Fire Protection Association (NFPA). NFPA 101®: Life Safety Code®. NFPA 101®: Life Safety Code®
- National Fire Protection Association (NFPA). Codes & Standards. Codes & Standards
- International Organization for Standardization (ISO). ISO 22320:2018 – Emergency Management. ISO 22320:2018
- International Labour Organization (ILO). Occupational Safety and Health. Occupational Safety and Health

Tinggalkan komentar